Literasi Kebencanaan Masuk Kurikulum Sekolah? Ini Tanggapan Al-Azhar BSD Cibitung
CIBITUNG - Indonesia bukan hanya dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga sebagai wilayah yang rawan bencana. Mulai dari gempa bumi, banjir, hingga kebakaran, berbagai risiko ini menjadi bagian dari realitas yang tidak bisa dihindari. Di tengah kondisi tersebut, muncul wacana penting: literasi kebencanaan akan diperkuat dan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
Gagasan ini salah satunya didorong oleh anggota Komisi VIII DPR RI, Muhammad Abdul Azis Saefudin, yang menilai bahwa pemahaman tentang kebencanaan perlu ditanamkan sejak dini. Bukan sekadar pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi generasi muda yang hidup di wilayah rawan bencana seperti Indonesia.
Langkah ini dinilai relevan, mengingat banyak anak yang belum memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat. Padahal, dalam kondisi bencana, kecepatan berpikir dan ketepatan bertindak bisa menjadi penentu keselamatan.
Menanggapi hal ini, Sekolah Islam Al-Azhar BSD@Cibitung menyambut positif rencana tersebut. Kepala sekolah, Supantara, S.Pd, menyampaikan bahwa literasi kebencanaan memang sudah seharusnya menjadi bagian dari sistem pendidikan.
“Sebagai sekolah Islam yang akan memulai tahun ajaran baru, kami memandang kebencanaan sangat relevan dan strategis dalam pendidikan, terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara rawan bencana. Literasi kebencanaan bukan hanya kebutuhan kognitif, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman,” jelasnya, Senin, (13/4)
Menurutnya, pendidikan kebencanaan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk sikap mental seperti sabar, tawakal, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini menjadi sangat penting, terutama saat menghadapi situasi krisis.
Lebih jauh, Supantara menjelaskan bahwa sebenarnya langkah konkret sudah mulai diterapkan di lingkungan Sekolah Islam Al-Azhar, khususnya di BSD@Cileungsi dan wilayah Tangerang Selatan. Pendekatan yang digunakan tidak hanya satu arah, tetapi terintegrasi dalam berbagai aspek pembelajaran.
Dalam kegiatan intrakurikuler, literasi kebencanaan dimasukkan ke dalam beberapa mata pelajaran. Di pelajaran IPA dan IPS, siswa diajak memahami jenis-jenis bencana, penyebab, serta dampaknya. Sementara di Bahasa Inggris, siswa belajar melalui teks prosedur seperti langkah evakuasi, hingga dialog situasional saat terjadi bencana.
Tak kalah penting, dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), nilai-nilai seperti kesabaran, ikhtiar, dan tawakal ditanamkan melalui konteks kebencanaan. Materi disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar, seperti potensi banjir atau kebakaran yang mungkin terjadi.
“Materi kami kemas secara kontekstual agar anak-anak tidak hanya paham teori, tetapi juga siap menghadapi kondisi nyata di lingkungannya,” tambah Supantara.
Tidak berhenti di ruang kelas, sekolah juga активно mengadakan pelatihan dan simulasi penanggulangan bencana setiap tahun. Bahkan, Sekolah Islam Al-Azhar BSD@Cibitung telah mendeklarasikan diri sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana.
Langkah ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata, seperti pembuatan peta risiko bencana di lingkungan sekolah, kampanye kesiapsiagaan, hingga simulasi evakuasi mandiri. Semua ini bertujuan untuk melatih kesiapan siswa secara langsung.
Selain itu, literasi kebencanaan juga diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah mengembangkan kegiatan seperti Palang Merah Remaja (PMR) serta pramuka berbasis survival dan tanggap darurat. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk lebih mandiri, sigap, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Untuk memperkuat program tersebut, sekolah juga menjalin kolaborasi dengan berbagai lembaga terkait, seperti BPBD, BNPB, Basarnas, hingga puskesmas dan PMI. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dan aplikatif bagi siswa.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa literasi kebencanaan bukan hanya sekadar wacana, tetapi sudah mulai diimplementasikan secara nyata di dunia pendidikan. Hal ini juga selaras dengan nilai gotong royong, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan di masa depan.
Pada akhirnya, memasukkan literasi kebencanaan ke dalam kurikulum bukan hanya tentang menambah materi pelajaran. Lebih dari itu, ini adalah upaya membekali generasi muda dengan kesiapan menghadapi realitas kehidupan.
Karena di negara seperti Indonesia, pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di kelas, tetapi juga tentang bagaimana bertahan, peduli, dan saling membantu ketika bencana datang. (AL)


